Kesiapan Guru Fisika Smp Dalam Melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp) Di Kabupaten Purbalingga Tahun Pelajaran 2006/2007 (PFIS-4)

thumbnail
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perwujudan masyarakat yang berkualitas merupakan tanggung jawab pendidik yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab terfokus pada upaya mempersiapkan peserta didik yang mempunyai keunggulan, kreatifitas, mandiri, dan professional dalam bidangnya masing- masing. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan ini terus menerus dilakukan oleh pemerintah guna memenuhi tanggung jawab tersebut.


Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kurikulum. Seperti yang telah dilakukan pemerintah saat ini yaitu memperbaiki Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada dasarnya kurikulum ditentukan oleh guru (tenaga kependidikan). Guru turut serta menyusun kurikulum, duduk dalam suatu panitia pengembang kurikulum, atau memberikan masukan kepada panitia pengembang kurikulum (Hamalik, 2005: 64).

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa guru dituntut untuk lebih kreatif dalam melakukan pembelajaran. Guru juga harus mampu melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan agar penyampaian materi pelajaran efektif. Pelaksanaan kurikulum di sekolah yang dilakukan oleh guru ini berkaitan dengan pembuatan silabus dan rencana pembelajaran dimana penguraian materi dan proses pembelajaran ditentukan oleh guru. Sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill juga harus ditetapkan oleh guru.

Mulai tahun pelajaran 2006/2007, Depdiknas meluncurkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau akrab disebut Kurikulum 2006. KTSP memberi keleluasaan penuh setiap sekolah mengembangkan kurikulum dengan tetap memperhatikan potensi sekolah dan potensi daerah sekitar (M. Basuki, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/23/didaktika/2971951.htm). KTSP ini mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2006/2007 disetiap jenjang pendidikan termasuk juga di tingkat SMP. Pada dasarnya pelaksanaan KTSP yang paling utama adalah guru, karena guru merupakan “the key person” keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Guru adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan dan melaksanakan kurikulum hingga mengevaluasi ketercapaiannya (Mantovani 2007:6). Mengingat peran guru sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan KTSP ini maka perlu adanya persiapan-persiapan tertentu agar nantinya guru mampu melaksanakannya dengan baik. Termasuk disini adalah persiapan guru fisika di SMP Negeri se Kabupaten Purbalingga.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “KESIAPAN GURU FISIKA SMP DALAM MELAKSANAKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN
2006/2007”.


Pengaruh Modal Kerja Dan Satuan Jam Kerja Terhadap Pendapatan Pada Industri Kecil Pengrajin Genting Di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan (IS-12)

thumbnail
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai usaha meningkatkan pendapatan individu pada umumnya dan masyarakat daerah Wirosari pada khususnya, penduduk di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan telah berusaha menciptakan lapangan kerja sendiri, yaitu dengan mendirikan industri kecil genting. Keberadaan industri kecil genting tersebut merupakan salah satu potensi yang memiliki peran yang strategis didalam memajukan roda perekonomian suatu bangsa.

Dalam kegiatan usahanya sebagian besar penduduk di Desa karangasem Kecamatan Wirosari adalah di sektor pertanian, baik sebagai buruh maupun sebagai petani. Karena hasil di sektor pertanian belum mencukupi kebutuhan hidup dan guna menambah pendapatan, maka mulailah mencari pekerjaan tambahan yaitu pada industri genting. Industri genting tersebut mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan bagi penduduk setempat dan sekitarnya.

Industri kecil genting merupakan tulang punggung perekonomian penduduk Desa Karangasem dan sekitarnya yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Dengan adanya lapangan kerja tersebut sudah tentu akan memerlukan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan faktor-faktor produksi yang bersangkutan dan pada akhirnya dapat menyerap pengangguran di lingkungan sekitar Wirosari.

Dalam menjalankan usaha, baik perusahaan besar maupun kecil membutuhkan manajemen modal kerja yang efektif dan efisien. Modal kerja merupakan unsur terpenting untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan, yang digunakan untuk membiayai kegiatan perusahaan sehari-hari yang dapat berubah sesuai dengan keadaan perusahaan. Dengan adanya proses produksi yang lancar dapat menghasilkan produksi yang sesuai dengan harapan para pengusaha, sehingga dapat meningkatkan hasil penjualan dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan bagi perusahaan tersebut.

Menurut Kamaruddin (1997:1) modal kerja yang tepat merupakan syarat keberhasilan suatu perusahaan apalagi bagi perusahan kecil, di samping itu modal kerja sangat menentukan posisi likuiditas perusahaan dan likuiditas adalah persyaratan keberhasilan serta kontinuitas perusahaan.

Di samping itu, pengelolaan satuan jam kerja juga perlu mendapat perhatian. Pengelolaan satuan jam kerja yang belum maksimal akan mengakibatkan pemborosan (inefisiensi) dalam bekerja. Setiap pengusaha hendaknya dapat melaksanakan ketentuan waktu kerja yang berlaku pada perusahaan tesebut. Dalam usahanya memenuhi permintaan pasar, maka setiap pengusaha perlu mengatur waktu kerja para karyawan secara lebih tepat dan memperhatikan kualitas tenaga kerja guna menghasilkan produksi sesuai yang diharapkan perusahaan sehingga dapat meningkatkan penapatan para pengusaha tersebut.

Para pengrajin genting di Desa Karangasem dalam melakukan usahanya berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan mengutamakan kualitas genting dan melakukan diversifikasi produk genting guna meningkatkan pendapatan. Namun, pendapatan dengan laba maksimal bukan satu-satunya tujuan utama didirikannya suatu usaha karena ada tujuan lain yaitu kontinuitas usaha dan perkembangan dalam usaha. Sedangkan pendapatan itu sendiri diterima dari berbagai factor yang mendukung diantaranya modal kerja dan tenaga kerja.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, bahwa rata-rata para industri kecil pengrajin genting di Desa Karangasem mengalami kekurangan modal kerja dan pengelolaan satuan jam kerja belum maksimal. Sehingga diperlukan pengelolaan yang baik atas modal kerja guna pengembangan usaha tersebut. Modal kerja dengan kuantitas yang besar dapat memberikan peluang jumlah keuntungan yang besar pula dibandingkan dengan keadaan jumlah modal yang relatif kecil. Dengan jumlah investasi rata-rata sebesar Rp 1.000.000,- pengrajin genting di Desa Karangasem mampu menghasilkan pendapatan rata-rata sebesar Rp 2.000.000,- per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa permodalan yang cukup akan memberikan kesempatan yang lebih baik dalam memperoleh pendapatan.

Para pengrajin genting yang ada di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kebupaten Grobogan selalu berpikir bagaimana cara mengelola modal kerja yang minimal agar bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin guna memaksimumkan pendapatan. Mereka menggunakan modal kerja tersebut untuk pengadaan bahan baku (tanah liat), pembelian bahan penolong (kayu bakar, kulit randu), dan pembayaran upah tenaga kerja. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengawasan yang baik atas penggunaan modal kerja. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas sehari-hari dalam industri genting dapat berjalan lancar guna mempertahankan kontinuitas perusahaan.

Selain modal kerja, pengelolaan satuan jam kerja juga perlu diperhatikan karena pengelolaan satuan jam kerja pada industri genting belum maksimal. Hal ini disebabkan usaha industri kecil genting tersebut merupakan pekerjaan sampingan diluar pekerjaan sebagai petani. Sehingga pekerjaan sebagai pengrajin genting dilakukan secara part time disela-sela mereka menganggur. Oleh karena itu jumlah tenaga kerja, pengalaman, dan kualitas tenaga kerja juga harus diperhatikan karena hal tersebut akan sangat mempengaruhi operasional dan volume pendapatan industri genting di tengah ketatnya persaingan.

Sejumlah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa para pengusaha kecil ternyata mampu menyerap sekitar 40 persen hingga 70 persen angkatan kerja, serta menyumbangkan sepertiga dari total output nasional yang secara resmi tercatat. Mereka itu meliputi para petani kecil, pengrajin, tukang, pedagang kecil, dan asongan, yang kebanyakan beroperasi di sektor ekonomi informal, baik di perkotaan maupun di pedesaan (Todaro 2000:271). Usaha untuk mengembangkan industri kecil memang terus dilakukan, akan tetapi sekarang ini banyak hambatan yang mereka hadapi di tengah perekonomian yang semakin terpuruk.

Para pengrajin genting di Desa Karangasem dalam melakukan penerimaan tenaga kerja tidak melalui seleksi secara khusus, seperti misalnya tidak memperhatikan tingkat pendidikan, keahlian dalam mencetak genting. Sehingga dengan keahlian tenaga kerja yang rendah mengakibatkan kurangnya ketrampilan dalam melakukan kerja atau kesulitan dalam menghadapi suatu permasalahan. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi genting yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pendapatan industri genting tersebut.

Di Desa Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan mempunyai jumlah penduduk 8.628 jiwa terdiri dari 4.407 laki-laki dan 4.221 perempuan. Dengan melihat jumlah penduduk yang demikian besar maka tenaga kerja yang terserap pda industri kecil genting ini juga cukup tinggi. Dengan jumlah 149 unit usaha industri kecil pengrajin genting di Desa Karangasem mampu menyerap tenaga kerja sebesar 1.634 orang atau 38 persen dari jumlah keseluruhan tenaga kerja yang terserap (Monografi Desa 2004). Hal ini menunjukkan bahwa industri kecil genting menjadi tumpuan pendapatan bagi penduduk di Desa Karangasem KecamatanWirosari Kabupaten Grobogan.

Topik penelitian ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti terdahulu. Beberapa diantaranya adalah Karsiyatun (2002) menyimpulkan “ada pengaruh antara pemanfaatan kredit Bank dengan peningkatan pendapatan pada industri kecil pengrajin genting di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen”, Mellinza Ratna Kartikasari (2003) menyimpulkan “ada pengaruh antara kredit Kopinkra Sutra Ayu dengan peningkatan pendapatan pengrajin bordir di Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan”, Dewi Wulandari (2004) menyimpulkan “ada pengaruh antara penggunaan kredit BPR-BKK Plupuh terhadap pendapatan pedagang kecil di Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen”. Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan lokasi dan waktu yang berbeda dengan harapan dapat menemukan sesuatu yang baru, yang berbeda.

Mengingat sedemikian pentingnya kedudukan modal kerja dan pengelolaan satuan jam kerja dalam mempengaruhi pendapatan guna mempertahankan kontinuitas perusahaan dan perkembangan usaha agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidup industri kecil pengrajin genting maka peneliti tertarik untuk mengangkat suatu penelitian dengan judul “Pengaruh Modal Kerja dan Satuan Jam Kerja Terhadap Pendapatan pada Industri Kecil Pengrajin Genting di Desa Karangsem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan”.


Pendugaan Hubungan Antara Kurang Gizi Pada Balita Dengan Kurang Energi Protein Ringan Dan Sedang Di Wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang Tahun 2005 (POL-15)

thumbnail
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2003:7). Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.
KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi zat energi dan zat protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan atau gangguan penyakit tertentu. Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan anak hanya nampak kurus karena ukuran berat badan anak tidak sesuai dengan berat badan anak yang sehat. Anak dikatakan KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS,1983. KEP ringan apabila BB/U 70% sampai 79,9% dan KEP sedang apabila BB/U 60% sampai 69,9%, % Baku WHO-NCHS tahun 1983 (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:18,131).

Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab tingginya kematian pada bayi dan anak. Apabila anak kekurangan gizi dalam hal zat karbohidrat (zat tenaga) dan protein (zat pembangun) akan berakibat anak menderita kekurangan gizi yang disebut KEP tingkat ringan dan sedang, apabila hal ini berlanjut lama maka akan berakibat terganggunya pertumbuhan, terganggunya perkembangan mental, menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh, hingga menjadikan penderita KEP tingkat berat sehingga sangat mudah terserang penyakit dan dapat berakibat kematian (Solihin Pudjiadi, 2003:124).

Di Indonesia angka kejadian KEP berkisar 10 % dari 4.723.611 balita menurut laporan Depkes RI tahun 2003, di Jawa Tengah sendiri angka penderita KEP yang ada yaitu sebesar 12,75 % dari 336.111 balita yang diukur menurut Dinkes Prop Jateng tahun 2004, di kota Semarang angka KEP yaitu 11,55 % dari 6.671 balita menurut laporan DKK Semarang tahun 2004, di Puskesmas Sekaran yang membawahi 5 kelurahan yaitu kelurahan Ngijo, kelurahan Patemon, kelurahan Kalisegoro, kelurahan Sekaran dan Kelurahan Sukorejo angka kasus KEP yang ada yaitu 9,82 % dari 576 balita menurut laporan Puskesmas Sekaran tahun 2005. Oleh karena itu, usaha-usaha perbaikan gizi masyarakat di negara ini harus diprioritaskan guna mengurangi angka penderita yang ada dan untuk dijadikan bagian dari program pembangunan nasional.

Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:13). Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status gizi anak (Soekirman, 2000:26).

Dari alasan tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara kurang gizi pada balita dengan KEP ringan dan sedang di wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang.


Survei Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Siswa Kelas XI Dalam Mengikuti Pelajaran Pendidikan Jasmani Di SMA Muhammadiyah 1 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (POL-14)

thumbnail
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, mata pelajaran jasmani beberapa kali berganti nama. Nama terakhir adalah Pendidikan Jasmani tanpa ditambah kesehatan. Perubahan nama ini tidak berarti menghilangkan perhatian terhadap kesehatan siswa. Kesehatan siswa tetap menjadi perhatian utama, tetapi kesehatan siswa merupakan dampak dari pendidikan jasmani. Nama pendidikan jasmani lebih menegaskan bahwa mata pelajaran ini menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk tujuan pembelajarannya. (Depdikbud, 2003:2).

Melalui pendidikan jasmani diharapkan kesehatan siswa tetap terjaga. Seorang siswa yang mempunyai tingkat kesehatan jasmani yang baik akan dengan mudah melakukan aktivitas belajar dengan lancar. Dengan demikian motivasi mengikuti pelajaran akan meningkat karena jasmani yang baik.
Sedangkan motivasi itu sendiri menurut Oemar Hamalik (2005:106), adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.
Motivasi mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Disini motivasi adalah sangat penting, motivasi merupakan konsep yang menjelaskan alasan seseorang berperilaku. Apabila terdapat dua anak yang memiliki kemampuan sama dan memberikan peluang dan kondisi yang sama untuk mencapai tujuan, kinerja dan hasil yang dicapai oleh anak yang termotivasi akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak termotivasi. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal (Oemar Hamalik,2005:108).


Hal ini dapat diketahui dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apabila anak tidak memiliki motivasi belajar, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar pada diri anak tersebut. Walaupun begitu, hal itu kadang-kadang menjadi masalah karena motivasi bukanlah suatu kondisi. Apabila motivasi anak itu rendah, umumnya diasumsikan bahwa prestasi yang bersangkutan akan rendah dan besar kemungkinan ia tidak akan mencapai tujuan belajar. Bila hal ini tidak diperhatikan, tidak dibantu, siswa gagal dalam belajar. (Catharina, 2004:112).
Pada kenyataannya motif setiap orang dalam belajar dapat berbeda satu sama lain. Ada siswa yang rajin belajar karena ingin menambah ilmu pengetahuan, adapula siswa yang belajar karena takut dimarahi oleh orang tua. Adanya perbedaan motivasi tersebut dipengaruhi oleh motivasi instrinsik yang muncul dalam diri sendiri tanpa dipengaruhi oleh sesuatu diluar dirinya. Dan motivasi ekstrinsik yang muncul dalam diri seseorang karena adanya pengaruh dari luar seperti: guru, orang tua dan lingkungan sekitar.
Seseorang yang motivasinya besar akan menampakkan minat, perhatian, konsentrasi penuh, ketekunan tinggi, serta berorientasi pada prestasi tanpa mengenal perasaan bosan, jenuh apalagi menyerah. Sebaliknya siswa yang rendah motivasinya akan terlihat acuh tak acuh, cepat bosan, mudah putus asa dan berusaha menghindar dari kegiatan. Dalam kaitannya dengan kegiatan, motivasi erat hubungannya dengan aktualisasi diri sehingga motivasi yang paling mewarnai kebutuhan siswa dalam belajar adalah motivasi belajar untuk mencapai prestasi yang tinggi.
Berdasarkan pengamatan saat pengalaman di lapangan (PPL), pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran yang paling ditunggu-tunggu oleh siswa. Hal ini dikarenakan siswa merasa jenuh dan pikirannya sudah terlalu tegang akibat melakukan proses belajar mengajar di kelas. Biasanya pelajaran yang dilakukan di dalam kelas memerlukan konsentrasi yang tinggi, suatu perhatian serius akan melelahkan siswa dalam berpikir, terutama mata pelajaran yang eksak seperti: matematika, fisika, kimia, dan biologi.
Tentunya mata pelajaran ini banyak memeras pikiran didalam memahaminya sehingga ketika akan ganti pelajaran pendidikan jasmani siswa ingin rasanya bel pergantian pelajaran cepat-cepat berbunyi. Sewaktu bel pergantian pelajaran berbunyi maka siswa merasa senang, secara tidak langsung siswanya langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga dan langsung menuju ke lapangan. Siswa akhirnya melampiaskan kejenuhannya kedalam pelajaran penjas akibatnya mereka antusias dalam mengikuti pelajaran penjas.
Dalam hal ini siswa termotivasi mengikuti pelajaran penjas tentunya disebabkan oleh beberapa banyak faktor diantaranya: yang pastinya pendidikan jasmani merupakan masuk dalam kurikulum kelas XI SMA sebagai syarat untuk naik kelas yang tercantum dalam nilai rapot. Ada yang ingin mendapat nilai plus, ada yang ingin menjaga kesehatan badan, ada juga yang menyalurkan hobinya sehingga ingin menjadi seorang atlet. Seseorang melakukan aktivitas karena didorong oleh adanya faktor-fakor, kebutuhan biologis, insting dan mungkin unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. (Sardiman A. M, 2006:77).
Faktor lain ini terlihat dari setiap bertemu dengan guru penjasnya, siswa selalu menanyakan materi pelajaran penjas apa yang nantinya akan disampaikan oleh guru penjasnya. Dan biasanya siswa meminta materi permainan bola voli dikarenakan siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Semarang banyak yang dari atlet bola voli. Setiap materi permainan bola voli mereka begitu termotivasi mengikuti pelajaran penjas begitu juga dengan materi penjas lainnya seperti: bola basket, atletik, dan senam. Jika masih ada waktu jam pelajaran yang tersisa akan diisi permainan bola voli oleh guru penjasnya. Didalam kegiatan belajar-mengajar peranan motivasi baik instrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. (Sardiman A. M, 2006:91).
Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Semarang terletak di jalan Tentara Pelajar no. 91 Semarang tepat di pinggir jalan raya sehingga lokasinya mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar. Sekolah ini hanya memiliki satu tenaga guru penjas dan itupun mengampu tiga kelas yaitu kelas X, XI, XII. Didukung dengan guru penjas yang basiknya dibola voli dan sarana dan prasarana bola yang memadahi akhirnya sekolah ini sering menjuarai dikejuaraan bola voli antar SMA di Semarang. Sedangkan sekolah ini terdiri dari kelas X, XI, XII. Berhubung kelas yang tersedia hanya 8 kelas dan sedang lagi tahap pembangunan untuk 4 kelas berikutnya, maka kelas X dan XII berangkatnya pagi sedangkan yang kelas XI berangkatnya siang jam 12.30 WIB bergantian dengan kelas XII. Sedangkan jam pelajaran pendidikan jasmani dilaksanakan pada sore hari jam 15.30-17.30 WIB itu untuk 4 jam pelajaran, hal tentunya menjadikan suasana menjadi lebih teduh dibandingkan dengan olahraga dipagi hari semakin lama semakin panas. Keadaan ini menguntungkan bagi siswa-siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Semarang dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan antusias. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal (Oemar Hamalik, 2005:108).
Akan tetapi sekolah SMA Muhammadiyah sendiri memiliki sarana dan prasarana yang kurang lengkap. Halaman yang sempit menjadikan sekolah tidak mempunyai lapangan bola voli, sepak bola maupun bola basket. Kalau ada lapangan bola basket hanya setengahnya itupun tidak ada garisnya dan sekaligus tempat itu dijadikan sebagai tempat parkir sepada motor. Ketika pelajaran penjas rawan bagi keselamatan siswa selain itu bolanya juga bisa mengenahi sepeda motor yang berada disitu. Ada lapangan olahraga yang letaknya jauh dari sekolah dan untuk menempuh kesana dengan berjalan memakan waktu sekitar 10 menit. Hal ini mengakibatkan jam pelajaran penjas menjadi berkurang 20 menit pulang pergi perjalanan ke lapangan. Lapangan itu juga digunakan oleh 4 sampai 5 sekolah sehingga sering penuh lapangannya.
Melihat kondisi fisik sekolah yang sedemikian rupa tentunya siswa dituntut untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani salah satunya adalah dengan memiliki motivasi dalam belajar, khususnya pelajaran pendidikan jasmani. Motivasi disini memiliki peranan yang begitu penting yaitu: dapat menyadarkan kedudukan awal belajar, proses dan hasil akhir serta mengarahkan kegiatan belajar siswa. Dengan motivasi siswa dapat terdorong perilakunya untuk mencapai tujuan hasil belajar yang ingin dicapai.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin meneliti seberapa tinggi faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi siswa kelas XI dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani di SMA Muhammadiyah 1 Semarang.


Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kapasitas Vital Paru Tukang Ojek Di Alun-Alun Ungaran Kabupaten Semarang Bulan Maret Tahun 2007 (POL-13)

thumbnail
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Transportasi memegang peranan penting dalam akitivitas manusia, baik transportasi udara, laut maupun darat. Kepadatan lalu-lintas alat transportasi berkaitan erat dengan jumlah penduduk dan ketersediaan sarana-prasarana. Lalu lintas dan angkutan jalan raya sebagai bagian dari sistem transportasi menempati posisi vital dan strategis dalam pembangunan nasional. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam industri otomotif begitu pesat, sehingga laju pertambahan kendaraan juga meningkat dengan cepat yang mengakibatkan transportasi manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain menjadi mudah dan cepat. Dalam kondisi ini persaingan di sektor transportasi menjadi semakin ketat dan untuk memenangkan persaingan diperlukan sumber daya manusia pekerja di sektor transportasi yang sehat dan produktif (Eryus AK.,2001:2).

Semakin banyak jumlah kendaraan bermotor yang digunakan per satuan waktu pada wilayah tertentu, semakin tinggi pencemaran udara. Pada tahun 2005 jumlah kendaraan bermotor di Jateng sekitar 3,8 juta unit yang terdiri dari sepeda motor mencapai 70 persen, sedangkan mobil 30 persen, bahkan jumlahnya tahun 2006 bakal bertambah lagi (www.kompas.com).

Para ahli memperkirakan sekitar 60-80% penduduk perkotaan di dunia menghirup udara yang kualitasnya buruk bagi kesehatan atau setidaknya dengan kadar polutan mendekati Nilai Ambang Batas. Seorang pengemudi bus umum tidak terlepas dari keterpaparan oleh zat kimia, baik dari sumber yang bersifat internal (dalam kendaraan) maupun eksternal (luar kendaraan). Beberapa bahan pencemaran yang dikenal seperti gas Karbon Monoksida (CO), Timbal (Pb), Ozon (O3), Nitrogen Oksida (NOX), Belerang Oksida (SOX), radikal bebas dan debu (Dadi S, 2003:9). Begitu pula bagi seorang tukang ojek yang keseharian pekerjannya berhubungan langsung jalan raya, tentunya juga tidak terlepas dari keterpaparan oleh zat-zat kimia pencemar tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan N0. 23 tahun 1992 pada bagian lima kesehatan lingkungan pasal 22 menyebutkan kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat. Kesehatan Lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya yang meliputi penyehatan air, udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian vektor penyakit, dan pengadaan atau pengamanan lainnya (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia, 1992:17)

Berdasarkan laporan pengujian kualitas udara ambien di Kabupaten Semarang tahun 2003 yang dilakukan oleh Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Semarang dengan lokasi di depan Pasar Bandarjo Ungaran didapatkan hasil analisa untuk parameter Sulfur dioksida (SO2) 75,11μg/Nm2, Nitrogen oksida (NO2) 49,19μg/Nm2, Karbon monoksida (Co) 7,72 μg/Nm2, Floating/debu (PM10) 71,67 μg/Nm2. Dari hasil pengujian dan pengukuran parameter kualitas udara ambien di lokasi tersebut dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 tahun 2001 dapat disimpulkan bahwa parameter yang diuji di lokasi tersebut masih dibawah Baku Mutu Udara Ambien. Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan manusia biasanya dirasakan dalam waktu relatif lebih lama. Salah satu dampak pencemaran udara ini adalah munculnya gangguan sistem pernafasan pada manusia (Karden Eddy Sontang Manik, 2003:18).

Seiring pertambahan umur, kapasitas paru-paru akan menurun. Kapasitas paru orang berumur 30 tahun ke atas rata-rata 3.000 ml sampai 3.500 ml, dan pada mereka yang berusia 50-an tentu kurang dari 3.000 ml. Kapasitas paru-paru yang sehat pada laki-laki dewasa bisa mencapai 4.500 ml sampai 5.000 ml atau 4,5 sampai 5 liter udara. Sementara itu, pada perempuan, kemampuannya sekitar 3 hingga 4 liter (Tjandra Yoga Aditama, Kompas.co.id:2005)

Perubahan struktur, fungsi saluran nafas dan jaringan paru-paru dapat juga disebabkan oleh kebiasaan merokok. Perubahan pada saluran nafas besar yaitu sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia) sedangkan pada saluran nafas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Perubahan pada jaringan paru-paru yaitu terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran nafas pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM). Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma (Hans Tandra, Kompas.Com:2001). 

Agar fungsi pernafasan menjadi baik, berolahraga merupakan cara yang sangat baik untuk meningkatkan ventilasi fungsi paru. Olahraga merangsang pernafasan yang dalam dan menyebabkan paru berkembang, oksigen banyak masuk dan disalurkan ke dalam darah, karbondioksida lebih banyak dikeluarkan. Seseorang yang sehat berusia 50 tahun keatas yang berolahraga teratur mempunyai volume oksigen 20-30% lebih besar daripada orang berusia muda yang tidak berolahraga (M. Arifin Nawas, Sinar harapan.com:2005).

Tukang ojek bekerja dengan waktu yang tidak tentu bisa mulai pagi hari, siang hari, bahkan sampai malam hari. Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 11, 13 dan 15 November 2006 pada 4 pangkalan ojek di alun-alun Ungaran Kabupaten Semarang, 46% dari 50 orang tukang ojek mempunyai penyakit pernafasan, dengan prevalensi tertinggi 86,96% untuk penyakit batuk, 4,35% untuk masing-masing penyakit batuk dan nyeri dada, batuk dan sesak dada, TBC dan asma. Sarana pelayanan kesehatan yang banyak dimanfaatkan oleh tukang ojek adalah Puskesmas (47,83%), Rumah Sakit/BP4 (17,39%), Dokter (4,35%), Dokter/Puskesmas (4,35%) dan 30,43% tukang ojek tidak memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan yang ada apabila mereka sedang sakit, hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran tukang ojek terhadap kesehatan dirinya sendiri. 72% tukang ojek memanfaatkan waktu sengganggangnya sambil menunggu penumpang dengan menghisap rokok. Berdasarkan masa kerja tukang ojek, 64% bekerja kurang dari 6 tahun, 18% bekerja antara 6-10 tahun dan 18% bekerja lebih dari 10 tahun. Kondisi Lingkungan, beban kerja tambahan dan kapasitas kerja yang berhubungan dengan pekerjaan tukang ojek dapat mempengaruhi kesehatan terutama gangguan pernapasan.

Berdasarkan kenyataan di atas peneliti ingin meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru tukang ojek di Alun-alun Ungaran Kabupaten Semarang pada bulan Maret tahun 2007.


Pendugaan Hubungan Antara Kurang Gizi Pada Balita Dengan Kurang Energi Protein Ringan Dan Sedang Di Wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang Tahun 2005 (IKS-9)

thumbnail
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2003:7). Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.


KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi zat energi dan zat protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan atau gangguan penyakit tertentu. Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan anak hanya nampak kurus karena ukuran berat badan anak tidak sesuai dengan berat badan anak yang sehat. Anak dikatakan KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS,1983. KEP ringan apabila BB/U 70% sampai 79,9% dan KEP sedang apabila BB/U 60% sampai 69,9%, % Baku WHO-NCHS tahun 1983 (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:18,131).

Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab tingginya kematian pada bayi dan anak. Apabila anak kekurangan gizi dalam hal zat karbohidrat (zat tenaga) dan protein (zat pembangun) akan berakibat anak menderita kekurangan gizi yang disebut KEP tingkat ringan dan sedang, apabila hal ini berlanjut lama maka akan berakibat terganggunya pertumbuhan, terganggunya perkembangan mental, menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh, hingga menjadikan penderita KEP tingkat berat sehingga sangat mudah terserang penyakit dan dapat berakibat kematian (Solihin Pudjiadi, 2003:124).

Di Indonesia angka kejadian KEP berkisar 10 % dari 4.723.611 balita menurut laporan Depkes RI tahun 2003, di Jawa Tengah sendiri angka penderita KEP yang ada yaitu sebesar 12,75 % dari 336.111 balita yang diukur menurut Dinkes Prop Jateng tahun 2004, di kota Semarang angka KEP yaitu 11,55 % dari 6.671 balita menurut laporan DKK Semarang tahun 2004, di Puskesmas Sekaran yang membawahi 5 kelurahan yaitu kelurahan Ngijo, kelurahan Patemon, kelurahan Kalisegoro, kelurahan Sekaran dan Kelurahan Sukorejo angka kasus KEP yang ada yaitu 9,82 % dari 576 balita menurut laporan Puskesmas Sekaran tahun 2005. Oleh karena itu, usaha-usaha perbaikan gizi masyarakat di negara ini harus diprioritaskan guna mengurangi angka penderita yang ada dan untuk dijadikan bagian dari program pembangunan nasional.

Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:13). Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status gizi anak (Soekirman, 2000:26).

Dari alasan tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara kurang gizi pada balita dengan KEP ringan dan sedang di wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang.


Contoh Skripsi Administrasi Perkantoran

thumbnail

Dalam kepustakaan banyak dirumuskan definisi mengenai Administrasi Perkantoran (Office Management) oleh para ahli. Dari banyak definisi-definisi tersebut dapat dirangkumkan bahwa administrasi perkantoran merupakan rangkaian aktivitas merencanakan, mengorganisasi (mengatur dan menyusun), mengarahkan (memberikan arah dan petunjuk), mengawasi, dan mengendalikan (melakukan kontrol) sampai menyelenggarakan secara tertib sesuatu hal.

Terkadang sebagai mahasiswa, Anda bingung ketika akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi, terutama ketika menentukan judul. Sehingga Anda perlu mencari inspirasi untuk judul sripsi yang akan Anda buat.

Buat teman-teman yang kebetulan lagi sibuk mikirin tentang pembuatan judul Skripsi Administrasi Perkantoran, lagi mencari contoh Skripsi Administrasi Perkantoran gratis. mudah-mudahan contoh Skripsi Skripsi Administrasi Perkantoran ini dapat membantu anda dalam membuat Skripsi Skripsi Administrasi Perkantoran yang anda jalani.

Berikut Contoh Skripsi Skripsi Administrasi Perkantoran Lengkap. Klik Judulnya untuk melihat isinya